Daily Lombok Timur – Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) kembali menghidupkan ruang diskusi "Pojok Jurnalis". Kali ini, sorotan utama tertuju pada pemaparan ilmiah Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, yang membedah disertasi doktoralnya terkait strategi penanganan stunting, Selasa malam (6/1/2026).
Disertasi berjudul "Model Implementasi Kebijakan Penurunan Stunting di Kabupaten Lombok Timur, NTB" ini menarik perhatian karena menawarkan solusi konkret di tengah stagnasi angka stunting di Bumi Patuh Karya. Menariknya, pemaparan di hadapan jurnalis ini dilakukan sebagai pemanasan sebelum ia menghadapi dosen pengujinya di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada (9/1/2026) mendatang.
Dalam diskusinya, pria yang akrab disapa Kak Ofik ini menyoroti anomali yang terjadi di Lombok Timur. Meski anggaran besar telah dikucurkan, posisi Lotim masih tertahan di peringkat 9 dari 10 kabupaten/kota di NTB dalam penanganan stunting.
Menurut Juaini, masalah utama bukan terletak pada minimnya regulasi, melainkan pada dampak nyata (outcome) di level akar rumput.
"Kita sudah punya regulasi dan anggaran, tapi ada gap besar antara kebijakan di atas kertas dengan perilaku masyarakat di lapangan. Penanganan stunting tidak boleh hanya bersifat musiman atau bergantung pada siklus anggaran tahunan saja," tegas Kak Ofik.
Ia menekankan bahwa perjuangan melawan stunting harus bersifat berkelanjutan dan tidak boleh terhenti ketika kalender anggaran berakhir di 31 Desember.
Salah satu keunggulan riset ini adalah metodologinya yang mendalam. Sekda Juaini melakukan riset partisipatif dengan terjun langsung dan tinggal bersama keluarga berisiko stunting di wilayah Masbagik dan Kembang Kuning.
Dari hasil penelitiannya tersebut, ia menemukan fakta bahwa hambatan terbesar justru lahir dari stigma dan persepsi sosial yang keliru.
"Banyak praktik lama yang kurang tepat masih dijalankan di rumah-rumah. Ternyata ini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi soal pendekatan budaya yang selama ini terabaikan," jelasnya di hadapan para panelis.
Sebagai solusi, Juaini memperkenalkan model SIPETAS (Sinergi Peran Tokoh Lokal dalam Akselerasi Penurunan Stunting). Model ini menyempurnakan teori implementasi kebijakan klasik milik George C. Edward III dengan menambahkan dua variabel krusial yaitu, Modal Sosial dan Kearifan Lokal.
Melalui SIPETAS, penanganan stunting diharapkan bertransformasi dari sekadar urusan birokrasi menjadi gerakan kolektif. Model ini mendorong keterlibatan aktif tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mengubah perilaku warga secara persuasif dan berkelanjutan.(tik/daily)



