Iklan

, Februari 16, 2023 WIB
Last Updated 2023-02-16T15:17:18Z
EkonomiLingkunganNasional

DLH KLU Beri Bimtek Kompos Metode Takakura dan POC untuk Pengelola TPS 3R | Daily Lombok

Narasumber Aisyah Odist, sedang menunjukan cara pengelolaan sampah


Daily Lombok Utara - Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menggelar bimbingan teknis (bimtek) Pengolahan Sampah Organik menjadi Kompos dengan metode Takakura dan Pupuk Organik Cair (POC) di TPS 3R Geger Bersih, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, KLU pada Kamis (16/2/2023). Hal ini dilakukan guna mengedukasi masyarakat agar lebih paham tentang pengelolaan sampah sehingga dapat menghasilkan nilai ekonomi, dan menjadi tambahan pendapatan masyarakat. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Persampahan, Limbah B3, dan Penguatan Kapasitas DLHK KLU, Dewa Purwa. 


Ia menyatakan, dengan digelarnya bimtek yang diikutsertai oleh masing-masing perwakilan dari pengelola TPS 3R tersebut, diharapkan dapat menjadi metode baru pengelolaan sampah organik di TPS 3R. Ia menyebutkan, dengan metode Takakura, kompos yang dihasilkan diyakini secara ekonomis lebih bernilai dari kompos biasa. 


"Ini bisa jadi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Hasilnya juga lebih efektif dan efisien, sehingga lebih memudahkan produsen. Kemudian harga jualnya pun lebih tinggi dibanding kompos biasa," kata Purwa. 


Peserta mempraktikkan cara pengelolaan sampah menjadi kompos


Senada dengan Dewa Purwa, Founder Bank Sampah NTB Mandiri Aisyah Odist, yang saat itu hadir sebagai narasumber juga mengatakan, sampah dapat mendatangkan pendapatan jika di kelola dengan tepat. Ia juga menjelaskan beberapa cara mengelola sampah rumah tangga menjadi kompos dengan media Takakura dan POC. 


"Masyarakat harus bisa memilah sampah organik dan nonorganik karna cara pengolahannya pun berbeda-beda. Efektifnya sampah dipilah dari rumah, sehingga di tempat pengelolaan tinggal diproses. Sehingga tidak banyak biaya yang habis untuk pengelolaan," papar Aisyah.


Selain memberikan pemahaman bagi masyarakat, Aisyah juga meminta agar pemerintah juga dapat memberikan fasilitas yang dibutuhkan, setidannya penyediaan tempat sampah terpilah. Hal ini guna mempermudah edukasi untuk masyarakat. 


Aisyah saat memberikan materi


"Tetap sosialisasikan pemilahan sampah, hal ini penting. Kemudian, dari pemerintah juga harus ada bantuan, setidaknya penyediaan tempat sampah terpilah," terangnya.
 

Ia menjelaskan beberpa langkah untuk pembuatan kompos. Menurutnya langkah-langkahnya cukup sederhana, karena menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan seperti Gula, Tape, Tempe, Minuman Fermentasi (misalnya Yakult). Kemudian bahan-bahan tersebut dicampur dalam wadah (galon) yang di isi air dan di tutup rapat selama minimal tiga hari. Setelah itu, menggunakan sekam dan dedag yang disiram dengan cairan bakteri yang sudah dibuat sebelumnya lalu ditutup menggunakan karung bekas dan didiamkan selama minimal tiga hari. 


"Untuk yang penasaran dengan bentuk yang sudah jadi, silahkan mampir ke tempat saya," ujar Aisyah mengundang.
 

Ia menambahkan, pihak Bank Sampah NTB Mandiri juga bersedia membeli bahkan siap menjemput ke lokasi jika produksi kompos telah mencapai enam ton. Hal tersebut merupakan bentuk komitmen pihaknya pada para peserta bimtek. 


Simulasi pengelolaan sampah menjadi kompos


Sementara itu, salah satu peserta bimtek asal Desa Santong Rian, mengaku antusias mengikuti bimtek tersebut. Lantaran, dinilainya pengelolaan sampah bukan hanya sekedar menjaga kebersihan namun dapat menghasilkan pendapatan. 


Menurutnya, melalui metode baru (Takakura) yang dipelajarinya pada bimtek itu, ia dapat melakukan efisiensi dan efektivitas terhadap pola produksinya. 


"Dengan pola ini kita bisa bikin kompos berapa saja jumlahnya. Kalau pola biasa kan harus ada volume standarnya, jadi kalau kita tunda satu proses yang lain akan rusak. Tapi dengan metode Takakura, kita tidak perlu khawatir," terang Rian, ditemui usai pelatihan di tempat pembakaran sampah virolisis milik KSM Mandiri Santong. (eyu-agi/daily)

Terkini