![]() |
| Rombongan field trip International Horticulture Symposium |
Daily Lombok Utara - Puluhan akademisi nasional maupun internasional yang tengah mengikuti seminar internasional The 2nd International Horticulture Symposium yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Mataram mengunjungi perkebunan kurma Lombok Utara atau yang akrab disebut Kurma Rinjani, Kamis (22/10/2026). Kunjungan ini dilakukan guna melihat secara langsung aktivitas para pegiat kurma Rinjani di perkebunannya. Hal ini juga terkait dengan tema seminar internasional yang diikuti para peserta yaitu "Strengthening Horticultural Resilience to Climate Change and Global Market Challenges" sehingga kunjungan ini merupakan field trip atau kunjungan lapangan dari kegiatan seminar internasional di kampus terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut. Uraian ini disampaikan langsung oleh pimpinan rombongan field trip Prof. Aluh Nikmatullah.
Prof. Aluh menerangkan, perkebunan kurma Rinjani dipilih sebagai tujuan field trip lantaran pihaknya menilai kurma Rinjani adalah komoditas pertanian yang cukup unik di NTB saat ini. Kurma yang biasanya dikenal sebagai tanaman padang pasir (sebutan untuk negara-negara di timur tengah) justru dapat tumbuh subur dan berbuah manis di Lombok Utara.
"Kita biasanya dengar kurma adalah tanaman daerah Jazirah Arab, tapi kini kita bisa menanamnya sendiri. Inilah keunikan kurma Rinjani," ungkap Prof. Aluh.
Profesor yang mengajar Bioteknologi di Fakultas Pertanian Unram ini menambahkan, pihaknya meyakini kurma Rinjani sudah menemukan pasarnya. Pasalnya, kurma Rinjani hidup di daerah dengan dua iklim yang memungkinkannya untuk berbuah lebih dari sekali dalam setahun. Sementara, di timur tengah kurma hanya berbuah sekali dalam setahun. Kebutuhan stok kurma segar dunia di saat musim dingin di Jazirah Arab dapat diisi oleh kurma Rinjani.
"Itu yang saya yakini, kurma kita sebenarnya sudah ada pasarnya. Saat musim dingin di negara lain di tempat kita masih bisa berbuah. Kurma segar di musim dingin itu menjadi peluang kita. Pengembangan ekonomi harus memiliki pasarnya terlebih dahulu," tegasnya.
Sementara itu, Direktur PT Ukhuwah Datu Nusantara (Udan) Suharman mengungkapkan beberapa hal terkait proses penanaman hingga pemeliharaan kurma Rinjani. Bahkan, Suharman mengajak Prof. Takagi seorang ilmuwan asal Jepang yang mengajar di Cheng Kung University Taiwan untuk mengawinkan antara bunga jantan dan betina kurma.
"Saya ingin mengajak saidara-saudara untuk menjadi wali nikah kurma kita," ujarnya guyon.
![]() |
| Suharman dan Prof. Takagi saat mengawinkan bunga kurma |
Sementara itu Sekertaris Tim Percepatan Peradaban Kurma Lombok Utara, Nasli, menyebutkan kunjungan dari puluhan ilmuwan dari dalam dan luar negeri ini adalah berkah bagi petani kurma di Lombok Utara. Ia berharap dengan adanya kunjungan ini dapat lahir berbagai inovasi dan kemajuan dalam perkembangan kurma Rinjani ke depan.
"Ini bagi kita adalah berkah, semoga dengan hadirnya mereka dapat menjadi inovasi baru terkait kurma kita ke depannya," tutup Nasli.
Adapun yang ikut dalam field trip ke kebun kurma Rinjani ini merupakan ilmuwan pertanian di masing-masing universitasnya seperti Prof. Takagi (Cheng Kung University, Taiwan), Prof. Ming Tsair Chan (Academia Sinica, Taiwan), Prof. Khamsah Suryani (UniSZA, Malaysia), dan beberapa profesor dari kampus-kampus di dalam negeri seperti Universitas Mataram, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Lampung, Universitas Hasanuddin, Universitas Udayana, Universitas Negeri Semarang, Universitas Bangka Belitung, dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Aktivitas perkenalan dan penyambutan dilakukan di markas PT Udan dan dilanjutkan dengan mengunjungi perkebunan kurma Rinjani di desa Rempek, Gangga, sebelum akhirnya berakhir di perkebunan kurma Rinjani di desa Sambik Bangkol.(tri/daily)




