Daily Lombok Timur - Bulan suci Ramadhan selalu membawa cerita perubahan. Kali ini, sorot lampu panggung Festival Seni dan Ngabuburit Ramadhan di Kampung PAS tertuju pada sosok-sosok istimewa yakni para santri dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong.
Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap acara. Mengenakan atribut religius dan membawa semangat baru, para warga binaan ini membuktikan bahwa jeruji besi bukan penghalang untuk tetap berkreativitas dan menebar nilai positif di tengah masyarakat.
Partisipasi para santri ini merupakan buah manis dari program pembinaan kepribadian dan kemandirian yang selama ini digodok secara konsisten oleh pihak Lapas Selong. Di atas panggung, mereka tampil percaya diri, melunturkan sekat antara "dunia dalam" dan "dunia luar".
Kepala Lapas Selong, Sudirman, menjelaskan bahwa momentum ini sangat krusial bagi proses pemulihan mental para santri. "Keikutsertaan mereka bukan hanya untuk memeriahkan suasana Ramadhan, tetapi juga sarana membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab. Ini pembuktian bahwa mereka mampu berkarya dan berkontribusi positif bagi masyarakat," ungkap Sudirman, Selasa (4/3).
Suasana di Kampung PAS mendadak syahdu saat penampilan seni dimulai. Pengunjung yang menanti waktu berbuka puasa tampak antusias memberikan apresiasi. Getaran religiusitas dan kehangatan begitu terasa, menciptakan jembatan emosional antara warga binaan dengan masyarakat umum.
Kegiatan seperti ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam proses reintegrasi sosial. Harapannya, saat mereka kembali ke masyarakat nanti, publik tidak lagi melihat mereka dari masa lalunya, melainkan dari karya dan perubahan yang telah ditunjukkan.
Festival Seni di Kampung PAS ini menjadi simbol kuat bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang membawa harapan baru dan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi siapa saja, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan.(tik/daily)




