![]() |
| Arianto Adipurwanto |
Daily Lombok Utara — Nama Arianto Adipurwanto, penulis asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), resmi tercatat sebagai salah satu dari sepuluh penulis terpilih dalam program Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026.
Pencapaian ini menandai langkah penting Arianto menembus panggung sastra nasional, sekaligus menegaskan bahwa suara sastra dari daerah terus menemukan ruang dan pengakuannya.
Program Emerging Writers UWRF sendiri merupakan agenda tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2008 oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati. Tahun ini, seleksi berlangsung sangat ketat dengan jumlah peserta mencapai 634 penulis dari seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua.
Dari ratusan naskah cerpen yang masuk, hanya sepuluh penulis yang akhirnya terpilih untuk mengikuti rangkaian pembekalan, pelatihan, hingga penerbitan karya dalam antologi tahunan UWRF 2026, yang akan diluncurkan pada festival tanggal 21–25 Oktober 2026 di Ubud.
Arianto menjadi satu-satunya perwakilan dari Lombok Utara dan NTB yang berhasil menembus sepuluh besar. Karyanya berjudul “Perempuan Ular” mendapat perhatian khusus dari para kurator karena kekuatan simboliknya dalam membicarakan ketakutan manusia terhadap “liyan”, yang berbeda, yang tak sepenuhnya dipahami, dan yang kerap diberi stigma.
Tambahkan setelah paragraf ini: “Arianto menjadi satu-satunya perwakilan dari Lombok Utara dan NTB yang berhasil menembus sepuluh besar.”
Arianto Adipurwanto sendiri bukanlah nama baru dalam dunia sastra Indonesia. Ia adalah penulis dan pendidik asal Selebung, Lombok Utara, yang telah lama menekuni dunia kepenulisan secara konsisten. Rekam jejaknya menunjukkan perjalanan kreatif yang serius dan berkesinambungan.
Pada 2017, Arianto diundang untuk berpartisipasi dalam Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Salihara, Jakarta, sebuah forum sastra prestisius yang mempertemukan penulis, pemikir, dan seniman dari berbagai latar. Kehadirannya dalam forum tersebut menandai pengakuan awal atas kualitas dan daya tawar estetik karyanya di tingkat nasional.
Kumpulan cerpen pertamanya, Bugiali, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 2018, masuk lima besar Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Pencapaian ini menegaskan posisinya sebagai penulis yang memiliki kekuatan artistik dan kedalaman tematik yang diperhitungkan dalam peta sastra Indonesia.
Buku keduanya, Iblis Tanah Suci, terbit melalui Diva Press pada 2024, dan kembali mencatat prestasi penting. Buku ini masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, menjadi finalis Hadiah Sastra Ayu Utami, serta masuk nominasi Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2024. Deretan capaian tersebut memperlihatkan konsistensi Arianto dalam menjaga kualitas karya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai penulis yang terus berkembang secara estetik dan intelektual.
Selain aktif menulis, Arianto juga berkiprah sebagai pendidik. Saat ini ia mengajar di MTsN 1 Kota Bima. Di saat yang sama, ia tetap terlibat dalam kerja-kerja kesastraan melalui Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Mataram. Perpaduan antara dunia pendidikan, komunitas, dan sastra inilah yang membentuk sudut pandangnya sebagai penulis yang dekat dengan realitas sosial, berakar pada lokalitas, dan peka terhadap persoalan kemanusiaan.
Dalam catatan kurator, cerpen Arianto dinilai berhasil menghadirkan lokalitas bukan sekadar sebagai latar budaya, melainkan sebagai ruang politis dan estetis untuk merebut kembali hak bercerita.
Tokoh-tokoh yang dianggap “liyan” justru diberi nama, sementara tokoh-tokoh “normal” dibiarkan anonim, sebuah pilihan yang disebut kurator sebagai keputusan politis sekaligus artistik yang berdampak besar terhadap pembacaan cerita.
Keberhasilan Arianto juga hadir di tengah konteks seleksi yang sarat dengan tema-tema besar. Tahun ini, para kurator mencatat dominasi isu lingkungan, perampasan lahan, trauma kolektif, perempuan dan tubuh, lokalitas dan adat, hingga kehidupan urban dan dunia digital. Para penulis tidak hanya dinilai dari kekuatan tema, tetapi juga dari keberanian mengambil risiko estetik dan ketepatan mengolah gagasan ke dalam bentuk cerpen yang utuh.
Kepada lombokvibes, Arianto mengaku bahwa keikutsertaannya dalam seleksi Emerging Writers UWRF bukan semata ambisi personal, melainkan dorongan untuk terus bertumbuh sebagai penulis.
“Sebenarnya saya mengikuti seleksi ini tidak lain tidak bukan karena saya ingin memanfaatkan peluang berkembang. Meskipun sebenarnya dapat dikatakan upaya ini cukup terlambat, mengingat teman-teman anggota komunitas telah lebih dulu lolos seleksi ini,” ujar Arianto, (16/1/2025).
Ia menambahkan bahwa posisinya yang saat ini berada di luar Lombok justru menjadi pemantik untuk tetap terhubung dengan dunia sastra yang telah membentuknya sejak awal.
“Ada satu dorongan kecil yang saya rasa penting. Saat ini saya berada di luar Lombok, yang artinya berada ‘di luar’ dari teman-teman komunitas dan teman-teman diskusi saya yang biasa memberikan suntikan semangat. Dengan mengikuti acara seperti Ubud Writers and Readers Festival ini, saya ingin tetap terhubung dengan apa yang telah saya lakukan sebelumnya, yakni menulis,” katanya.
Bagi Arianto, kelolosannya bukan hanya tentang prestasi, tetapi tentang memastikan dirinya tidak keluar dari jalur yang telah ia pilih.
“Mengikuti seleksi ini dan lolos tentu sangat membahagiakan karena ini memastikan saya tetap di jalur yang telah saya mulai sebelumnya: jalur sastra,” ucapnya.
Lebih jauh, Arianto memaknai proses ini sebagai bagian dari transformasi personal. Ia merasa sedang berada dalam fase pembentukan ulang identitas diri.
“Saat ini saya merasakan diri saya sedang dibentuk ulang. Jika sebelumnya saya menjalani kehidupan yang monoton, sekarang saya ‘terpaksa’ untuk menerima identitas lain. Seperti diam-diam ada tangan yang memahatkan ciri baru ke dalam diri saya,” tuturnya.
“Mengikuti berbagai acara sebenarnya hanya upaya saya untuk membantu tangan tak terlihat itu, membantunya untuk menciptakan diri saya yang baru,” sambungnya.
Seleksi Emerging Writers 2026 sendiri dilakukan dalam dua tahap. Tahap pra-kurasi dilakukan oleh A. Nabil Wibisana dan Siska Yuanita dengan membaca seluruh naskah masuk dan menyaringnya menjadi 50 besar, yang kemudian berkembang menjadi 70 cerpen karena banyak karya dinilai memiliki kualitas sebanding. Tahap akhir dilakukan bersama Cyntha Hariadi untuk menetapkan sepuluh penulis terpilih.
Cyntha Hariadi menyebut bahwa cerpen-cerpen terpilih tahun ini mencerminkan kedewasaan dan kepekaan penulis-penulis muda Indonesia dalam merespons dunia yang penuh ketegangan sosial, ekologis, dan eksistensial.
“Tahun 2025 adalah tahun penuh prahara bagi negara kita. Kita menutupnya dengan kemarahan, kesedihan, dan keputusasaan. Namun membuka mata di tahun 2026, sebagai manusia kita mesti memilih hidup. Dalam sastra, itu tercermin dalam tema yang relevan dan kekriyaan yang matang,” ujarnya seperti yang terkutip dari webstie resmi Ubud Writers
Ia menegaskan bahwa sepuluh penulis terpilih, termasuk Arianto, menunjukkan keberanian mengambil risiko artistik dan kedalaman dalam mengolah gagasan.
Sepuluh penulis yang terpilih dalam program Emerging Writers UWRF 2026 adalah:
1. Ajen Angelina (Ruteng)
2. Arianto Adipurwanto (Lombok Utara)
3. Carisya Nuramadea (Bogor)
4. Dhias Nauvaly (Yogyakarta)
5. Galuh Ginanti (Denpasar)
6. Hamran Sunu (Palopo)
7. IRZI (Jakarta)
8. Jein Oktaviany (Bandung)
9. Nityasa Wijaya (Gianyar)
10. R. Abdul Azis (Bandung)
Seluruh penulis terpilih akan mengikuti rangkaian pembekalan intensif sebelum karya-karya mereka diterbitkan dalam antologi tahunan UWRF 2026 dan diluncurkan secara resmi pada festival yang berlangsung di Ubud, 21–25 Oktober 2026.(*)



